lavozdelpitic.com – Ritual Seba, sebuah tradisi sakral yang mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Baduy, kembali digelar dengan penuh khidmat. Kali ini, sebanyak 1769 warga Baduy, baik dari Baduy Dalam maupun Baduy Luar, melangkahkan kaki mereka menyusuri jalanan menuju Pusat Pemerintahan Provinsi Banten. Mereka datang bukan untuk berunjuk rasa atau menuntut janji-janji politik, melainkan untuk menunaikan kewajiban adat yang telah diwariskan turun-temurun: menghaturkan hasil bumi dan menyampaikan pesan-pesan penting kepada umpu (pemerintah). Namun, ada satu hal yang menjadi sorotan utama dalam Seba kali ini: permohonan mendalam agar Gubernur Banten, beserta jajarannya, memberikan perhatian lebih terhadap kelestarian adat dan budaya Baduy. Ritual Seba kali ini bukan hanya sekadar seremonial tahunan, melainkan sebuah ekspresi kearifan lokal yang sarat makna, sebuah jembatan komunikasi antara masyarakat adat dengan pemangku kekuasaan, serta sebuah pengingat akan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi.
Ritual Seba Baduy 2024: Permohonan Warga kepada Pemprov Banten
Ritual Seba yang dilaksanakan pada tahun 2024 ini terasa istimewa. Angka 1769 yang tertera dalam judul bukan sekadar jumlah partisipan, melainkan simbol partisipasi yang luar biasa besar dari seluruh lapisan masyarakat Baduy, menunjukkan kesatuan dan tekad mereka dalam menjalankan adat. Perjalanan panjang dari perkampungan mereka di pedalaman Kabupaten Lebak hingga Serang, pusat ibu kota provinsi, bukanlah hal yang mudah. Mereka berjalan kaki, menyusuri hutan, ladang, dan jalanan aspal, sebuah perjalanan yang penuh dengan nilai-nilai kesederhanaan, ketahanan, dan penghormatan terhadap alam.
Setibanya di Serang, rombongan Warga Baduy Ritual Seba disambut dengan hangat oleh jajaran pemerintah daerah. Suasana khidmat menyelimuti area penyambutan. Para tetua adat Baduy, dengan pakaian khas mereka yang serba hitam atau putih, memimpin rombongan. Mereka membawa hasil bumi yang telah mereka tanam dan rawat dengan penuh kasih sayang: padi, umbi-umbian, madu, dan berbagai hasil hutan lainnya. Ini adalah bentuk rasa syukur mereka kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia hasil bumi, sekaligus simbol penghormatan kepada pemerintah sebagai “umpu” yang dianggap sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi.
Namun, di balik penyerahan hasil bumi yang penuh simbolisme itu, terselip sebuah pesan yang sangat penting. Melalui juru bicara adat, para tetua menyampaikan permohonan mereka kepada Gubernur Banten. Permohonan ini bukan tentang pembangunan infrastruktur mewah atau bantuan finansial dalam jumlah besar, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih fundamental: perhatian terhadap kelestarian adat dan budaya Baduy. Mereka memohon agar pemerintah provinsi lebih memahami, menghargai, dan melindungi nilai-nilai luhur yang telah dipegang teguh oleh masyarakat Baduy selama berabad-abad.
Permohonan ini muncul bukan tanpa alasan. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi yang semakin deras, masyarakat Baduy menghadapi tantangan besar dalam menjaga keaslian adat mereka. Pengaruh dari luar, baik dalam bentuk teknologi, gaya hidup, maupun nilai-nilai yang bertentangan dengan kearifan lokal Baduy, mulai mengikis tradisi dan tatanan sosial mereka. Pembukaan akses jalan yang lebih mudah, meskipun memberikan kemudahan logistik, juga membuka pintu bagi masuknya pengaruh yang tidak diinginkan. Meningkatnya jumlah wisatawan yang tidak selalu memahami etika berkunjung ke wilayah adat juga menjadi perhatian. Semua ini menjadi kekhawatiran serius bagi para tetua adat yang bertanggung jawab menjaga kelangsungan hidup budaya Baduy.

Warga Baduy Seba ke Gubernur Banten: Mengangkat Isu Perhatian terhadap Adat
Ritual Seba adalah momen krusial bagi masyarakat Baduy untuk berkomunikasi secara langsung dengan pemerintah. Ini adalah platform tradisional mereka untuk menyampaikan aspirasi, keluhan, dan permohonan. Dalam Seba kali ini, isu perhatian terhadap adat menjadi inti dari pesan yang disampaikan oleh Warga Baduy Ritual Seba kepada Gubernur Banten.
Mereka menjelaskan bahwa perhatian yang mereka maksud bukanlah intervensi 368MEGA yang berlebihan dari pemerintah, melainkan dukungan dalam bentuk pemahaman, perlindungan, dan fasilitasi yang tidak merusak tatanan adat. Contohnya, mereka berharap pemerintah dapat membantu dalam edukasi masyarakat luas, terutama para wisatawan, mengenai pentingnya menghormati aturan dan norma yang berlaku di wilayah adat Baduy. Mereka juga berharap pemerintah dapat bersinergi dengan masyarakat adat dalam mengembangkan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan dan budaya.
Selain itu, isu mengenai perlindungan lahan dan wilayah adat juga menjadi perhatian. Masyarakat Baduy memiliki ikatan yang sangat kuat dengan alam dan tanah leluhur mereka. Mereka mempraktikkan pertanian tradisional dan menjaga kelestarian hutan sebagai bagian dari keyakinan spiritual mereka. Ancaman terhadap keberadaan hutan dan lahan adat, baik akibat eksploitasi sumber daya alam maupun perluasan pembangunan, menjadi kekhawatiran yang serius. Dalam Ritual Seba, mereka menyampaikan permohonan agar pemerintah dapat memberikan perlindungan hukum yang kuat terhadap wilayah adat mereka, memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan di sekitar wilayah Baduy tidak merusak ekosistem dan tatanan sosial mereka.
Lebih lanjut, Warga Baduy Ritual Seba juga menyoroti pentingnya pengakuan dan penghormatan terhadap sistem hukum adat mereka. Masyarakat Baduy memiliki hukum dan aturan sendiri yang telah berlaku turun-temurun dan terbukti efektif dalam menjaga ketertiban dan harmoni dalam masyarakat mereka. Mereka berharap pemerintah dapat menghargai dan mengakui keberadaan hukum adat ini, serta tidak mengintervensi secara berlebihan dalam penyelesaian masalah internal yang dapat diselesaikan melalui mekanisme adat.
Pesan yang disampaikan oleh Warga Baduy Ritual Seba dalam Seba kali ini adalah sebuah panggilan untuk kemitraan. Mereka tidak ingin menjadi objek pembangunan atau studi semata, melainkan ingin menjadi subjek yang aktif dalam menjaga dan mengembangkan kehidupan mereka sendiri, dengan dukungan dan pemahaman dari pemerintah. Mereka percaya bahwa dengan perhatian dan dukungan yang tepat dari pemerintah, adat dan budaya Baduy dapat terus bertahan dan menjadi sumber inspirasi bagi keberagaman budaya Indonesia.
Pentingnya Ritual Seba Baduy bagi Pelestarian Adat dan Budaya
Ritual Seba bukan hanya sekadar acara seremonial tahunan, melainkan memiliki peran yang sangat vital dalam pelestarian adat dan budaya Baduy. Ritual ini adalah salah satu pilar utama yang menjaga keberlangsungan hidup masyarakat adat yang unik ini.
Pertama, Ritual Seba adalah sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan solidaritas di antara Warga Baduy. Persiapan untuk Seba melibatkan seluruh anggota masyarakat, dari anak-anak hingga orang tua. Mereka bersama-sama menyiapkan hasil bumi, mengatur perjalanan, dan menjaga kekompakan selama perjalanan. Proses ini memperkuat rasa kebersamaan dan identitas kolektif mereka sebagai masyarakat Baduy.
Kedua, Ritual Seba adalah cara untuk mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Anak-anak dan remaja Baduy ikut serta dalam perjalanan Seba, menyaksikan langsung bagaimana para tetua mereka menjalankan tradisi ini dengan penuh penghormatan. Mereka belajar tentang pentingnya rasa syukur, kesederhanaan, ketahanan, dan penghormatan terhadap alam dan leluhur. Ritual ini menjadi sekolah kehidupan yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai budaya Baduy kepada generasi penerus.
Ketiga, Ritual Seba adalah momen untuk memperbarui komitmen terhadap adat dan kepercayaan. Selama Seba, para tetua adat menyampaikan pesan-pesan spiritual dan moral kepada seluruh anggota rombongan. Pesan-pesan ini mengingatkan mereka akan pentingnya menjaga kejujuran, kesederhanaan, dan hidup selaras dengan alam. Ritual ini menjadi semacam “refreshing” spiritual yang memperkuat keyakinan mereka terhadap ajaran leluhur.
Keempat, seperti yang terlihat dalam Seba kali ini, Ritual Seba adalah platform penting untuk berkomunikasi dengan dunia luar, khususnya pemerintah. Melalui Seba, masyarakat Baduy dapat menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mereka secara langsung, tanpa perantara yang berpotensi menyimpangkan pesan. Ini adalah cara mereka untuk memastikan bahwa suara mereka didengar dan diperhatikan oleh pihak-pihak yang memiliki pengaruh terhadap kehidupan mereka.
Kelima, Ritual Seba adalah cara untuk menjaga keberadaan masyarakat Baduy di mata publik. Setiap tahun, Ritual Seba menarik perhatian media dan masyarakat luas. Ini adalah kesempatan bagi masyarakat Baduy untuk memperkenalkan diri mereka, menjelaskan nilai-nilai budaya mereka, dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menghormati keberagaman budaya di Indonesia. Perhatian publik ini juga dapat menjadi bentuk perlindungan tidak langsung terhadap keberadaan mereka.
Detail Ritual Seba 1769 Warga Baduy
Ritual Seba yang diikuti oleh 1769 Warga Baduy ini memiliki detail yang menarik untuk dicermati. Perjalanan dimulai dari perkampungan Baduy Dalam dan Baduy Luar. Mereka berjalan kaki, menempuh jarak puluhan kilometer. Perjalanan ini dilakukan secara berkelompok, dipimpin oleh para tetua adat. Mereka membawa bekal seadanya, menunjukkan gaya hidup sederhana yang mereka anut.
Selama perjalanan, mereka mematuhi aturan-aturan adat yang ketat. Misalnya, mereka tidak menggunakan alas kaki, tidak menggunakan kendaraan bermotor, dan tidak membawa alat komunikasi elektronik. Semua ini adalah bagian dari upaya mereka untuk menjaga kemurnian diri dan menghormati alam. Perjalanan ini juga menjadi semacam meditasi bergerak, sebuah waktu untuk merenung dan memperkuat hubungan dengan spiritualitas mereka.
Setibanya di Serang, mereka disambut di tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah daerah. Penyambutan ini biasanya dilakukan dengan penuh kehormatan, menunjukkan pengakuan pemerintah terhadap keberadaan dan pentingnya masyarakat Baduy. Setelah penyambutan, acara inti dari Ritual Seba dimulai, yaitu penyerahan hasil bumi dan penyampaian pesan-pesan adat kepada Gubernur.
Penyerahan hasil bumi dilakukan dengan penuh simbolisme. Setiap jenis hasil bumi yang diserahkan memiliki maknanya sendiri, mewakili rasa syukur atas karunia alam dan harapan akan keberkahan di masa depan. Setelah penyerahan hasil bumi, para tetua adat menyampaikan pesan-pesan mereka. Pesan-pesan ini biasanya disampaikan dalam bahasa Sunda Baduy, kemudian diterjemahkan oleh juru bicara yang fasih berbahasa Indonesia.
Dalam Seba kali ini, seperti yang telah disebutkan, pesan utama adalah permohonan perhatian terhadap adat. Para tetua menjelaskan secara rinci tantangan yang mereka hadapi dalam menjaga kelestarian adat di era modern. Mereka berbicara tentang dampak negatif dari pariwisata yang tidak terkontrol, masuknya pengaruh budaya luar yang bertentangan dengan nilai-nilai Baduy, dan ancaman terhadap lahan dan sumber daya alam mereka. Mereka menyampaikan permohonan ini dengan suara yang tenang namun penuh ketegasan, menunjukkan betapa pentingnya isu ini bagi mereka.
Setelah penyampaian pesan, biasanya ada sesi dialog antara perwakilan Warga Baduy Ritual Seba dengan Gubernur dan jajarannya. Dalam sesi ini, pemerintah memberikan tanggapan terhadap permohonan Warga Baduy. Tanggapan ini menjadi momen penting untuk melihat sejauh mana pemerintah memahami dan bersedia mendukung upaya pelestarian adat Baduy.
Tuntutan Warga Baduy dalam Ritual Seba kepada Gubernur
Meskipun Ritual Seba lebih bersifat permohonan dan penyampaian pesan dibandingkan tuntutan dalam arti konvensional, ada beberapa poin kunci yang dapat dianggap sebagai harapan atau tuntutan dari Warga Baduy Ritual Seba kepada Gubernur Banten. Poin-poin ini mencerminkan kebutuhan mendesak mereka untuk menjaga kelangsungan hidup budaya dan tatanan sosial mereka di tengah perubahan zaman.
Pertama, Pengakuan dan Penghormatan terhadap Wilayah Adat. Warga Baduy berharap pemerintah provinsi dapat memberikan pengakuan hukum yang kuat terhadap wilayah adat mereka, termasuk hutan dan lahan pertanian. Mereka menuntut perlindungan dari berbagai bentuk eksploitasi yang dapat merusak ekosistem dan mengancam keberadaan mereka. Pengakuan ini juga berarti penghormatan terhadap batas-batas wilayah yang telah ditetapkan secara adat.
Kedua, Perlindungan terhadap Hukum Adat. Masyarakat Baduy memiliki sistem hukum dan norma-norma sosial yang telah terbukti efektif dalam menjaga ketertiban dan harmoni. Mereka berharap pemerintah tidak mengintervensi secara berlebihan dalam urusan internal mereka dan menghargai mekanisme penyelesaian masalah berdasarkan hukum adat.
Ketiga, Pengembangan Pariwisata yang Bertanggung Jawab. Pariwisata memang memberikan manfaat ekonomi, namun Warga Baduy sangat khawatir dengan dampak negatifnya terhadap budaya dan lingkungan. Mereka menuntut agar pemerintah dapat membantu dalam mengembangkan pariwisata yang lebih bertanggung jawab, dengan melibatkan masyarakat adat dalam perencanaan dan pengelolaan, serta mengedukasi wisatawan tentang etika berkunjung ke wilayah adat.
Keempat, Dukungan dalam Edukasi dan Pelestarian Budaya. Warga Baduy berharap pemerintah dapat mendukung upaya mereka dalam melestarikan bahasa, tradisi, dan kerajinan tangan mereka. Dukungan ini bisa berupa fasilitasi dalam penyelenggaraan kegiatan budaya, bantuan dalam dokumentasi warisan budaya, atau dukungan dalam pengembangan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat adat.
Kelima, Perlindungan dari Pengaruh Negatif Budaya Luar. Meskipun mereka tidak menolak sepenuhnya modernisasi, Warga Baduy sangat prihatin dengan masuknya pengaruh budaya luar yang bertentangan dengan nilai-nilai mereka, seperti konsumerisme, individualisme, dan penggunaan teknologi yang berlebihan. Mereka berharap pemerintah dapat membantu dalam memfilter pengaruh-pengaruh ini dan mendukung upaya mereka untuk menjaga kemurnian budaya mereka.
Keenam, Peningkatan Pemahaman Pemerintah terhadap Masyarakat Baduy. Mungkin ini adalah tuntutan yang paling fundamental. Warga Baduy berharap pemerintah provinsi benar-benar memahami cara pandang, nilai-nilai, dan kebutuhan mereka. Pemahaman yang mendalam ini akan menjadi dasar bagi kebijakan dan program yang lebih tepat sasaran dan tidak merusak tatanan adat mereka.

Respon Pemerintah Provinsi Banten terhadap Permohonan Warga Baduy
Respon pemerintah provinsi Banten terhadap permohonan Warga Baduy Ritual Seba menjadi hal yang sangat dinantikan. Biasanya, dalam acara Seba, Gubernur atau perwakilan pemerintah akan memberikan pidato tanggapan. Tanggapan ini seringkali berisi apresiasi terhadap Ritual Seba sebagai warisan budaya yang penting, pengakuan terhadap keberadaan masyarakat Baduy, dan janji untuk memperhatikan permohonan mereka.
Dalam Seba kali ini, Gubernur Banten, atau pejabat yang mewakilinya, diharapkan memberikan respon yang lebih konkret dan menunjukkan komitmen nyata terhadap isu perhatian terhadap adat. Respon yang diharapkan bukan hanya sekadar kata-kata manis, melainkan rencana aksi yang jelas dan terukur.
Beberapa kemungkinan bentuk respon dari pemerintah provinsi Banten antara lain:
- Pembentukan Tim Khusus atau Pokja yang Fokus pada Permasalahan Masyarakat Adat Baduy: Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani isu-isu yang dihadapi oleh Warga Baduy. Tim ini dapat bertugas untuk mengkaji permohonan Warga Baduy secara mendalam, berdialog secara intensif dengan para tetua adat, dan merumuskan kebijakan serta program yang relevan.
- Penyusunan Peraturan Daerah (Perda) yang Melindungi Wilayah Adat dan Hukum Adat Baduy: Perda ini akan memberikan dasar hukum yang kuat untuk melindungi lahan, hutan, dan sistem hukum adat masyarakat Baduy. Ini akan menjadi langkah maju yang signifikan dalam memastikan keberlangsungan hidup budaya Baduy.
- Pengembangan Program Pariwisata Berbasis Komunitas yang Melibatkan Masyarakat Baduy: Pemerintah dapat bekerja sama dengan masyarakat Baduy untuk mengembangkan model pariwisata yang mengutamakan kelestarian lingkungan dan budaya, serta memberikan manfaat ekonomi yang adil bagi masyarakat lokal.
- Dukungan terhadap Program Edukasi dan Pelestarian Budaya yang Dilakukan oleh Masyarakat Baduy: Pemerintah dapat memberikan dukungan finansial atau fasilitasi dalam penyelenggaraan kegiatan budaya, pelatihan kerajinan tangan tradisional, atau pengembangan materi edukasi tentang budaya Baduy.
- Peningkatan Kapasitas dan Pemahaman Aparatur Pemerintah tentang Masyarakat Baduy: Penting bagi aparatur pemerintah di berbagai tingkatan untuk memiliki pemahaman yang mendalam tentang budaya dan nilai-nilai masyarakat Baduy. Pemerintah dapat menyelenggarakan pelatihan atau lokakarya untuk meningkatkan pemahaman ini.
Respon yang positif dan konstruktif dari pemerintah provinsi Banten akan sangat berarti bagi Warga Baduy. Ini akan menjadi bukti bahwa pemerintah menghargai keberadaan mereka dan berkomitmen untuk mendukung upaya mereka dalam menjaga kelestarian adat dan budaya. Ini juga akan menjadi contoh bagi pemerintah daerah lain di Indonesia dalam berinteraksi dengan masyarakat adat.
Makna dan Tujuan Ritual Seba dalam Kehidupan Warga Baduy
Ritual Seba memiliki makna yang sangat dalam dan tujuan yang multifaset dalam kehidupan Warga Baduy KINGSPIN99. Lebih dari sekadar acara tahunan, Seba adalah cerminan dari filosofi hidup mereka dan cara mereka berinteraksi dengan dunia.
Makna Spiritual dan Kepercayaan: Seba adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa (Sang Hyang Keresa) atas karunia hasil bumi dan keberkahan dalam hidup. Penyerahan hasil bumi adalah simbol persembahan kepada Sang Pencipta melalui perwakilan-Nya di dunia, yaitu umpu (pemerintah). Ritual ini juga merupakan cara untuk memperbarui ikatan spiritual dengan leluhur dan alam semesta.
Makna Sosial dan Politik: Seba adalah cara Warga Baduy untuk berkomunikasi dengan pemerintah sebagai perwakilan dunia luar. Ini adalah platform tradisional mereka untuk menyampaikan aspirasi, keluhan, dan permohonan. Seba juga memperkuat rasa persatuan dan solidaritas di antara sesama Warga Baduy, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar.
Makna Ekonomi: Meskipun bukan tujuan utama, hasil bumi yang diserahkan dalam Seba juga memiliki makna ekonomi. Ini menunjukkan keberhasilan mereka dalam bercocok tanam dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.
Tujuan Utama Ritual Seba:
- Menunaikan Kewajiban Adat: Ini adalah tujuan paling mendasar. Seba adalah tradisi yang diwariskan turun-temurun dan wajib dilaksanakan oleh Warga Baduy sebagai bentuk ketaatan terhadap adat dan leluhur.
- Menyampaikan Rasa Syukur: Seba adalah cara untuk mengungkapkan rasa syukur atas hasil panen dan keberkahan dalam hidup.
- Mempererat Hubungan dengan Pemerintah: Seba adalah jembatan komunikasi antara masyarakat adat dengan pemerintah, membangun hubungan yang harmonis dan saling menghormati.
- Menyampaikan Permohonan dan Aspirasi: Seperti yang terlihat dalam Seba kali ini, Seba adalah momen untuk menyampaikan permohonan dan aspirasi terkait kebutuhan dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Baduy.
- Menjaga Kelestarian Adat dan Budaya: Seba adalah salah satu instrumen paling penting dalam menjaga kelangsungan hidup adat, nilai-nilai luhur, dan identitas Warga Baduy di tengah perubahan zaman.
Peran Ritual Seba dalam Menjaga Kelestarian Adat dan Lingkungan Baduy
Ritual Seba memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjaga kelestarian adat dan lingkungan Baduy. Kedua aspek ini saling terkait erat dalam filosofi hidup masyarakat Baduy.
Menjaga Kelestarian Adat:
- Pewarisan Nilai: Seba menjadi sarana efektif untuk mewariskan nilai-nilai luhur Baduy kepada generasi muda. Melalui partisipasi langsung dalam ritual, generasi muda belajar tentang pentingnya kesederhanaan, kejujuran, ketahanan, dan penghormatan terhadap alam dan leluhur.
- Penguatan Identitas: Seba memperkuat rasa identitas Warga Baduy sebagai masyarakat adat yang unik. Ritual ini menjadi pengingat akan akar budaya mereka dan perbedaan mereka dari masyarakat di luar Baduy.
- Disiplin Adat: Proses persiapan dan pelaksanaan Seba melibatkan kepatuhan terhadap aturan-aturan adat yang ketat. Ini melatih disiplin dan ketaatan terhadap tatanan sosial yang berlaku di masyarakat Baduy.
- Jembatan Komunikasi Antar Generasi: Seba menjadi momen di mana tetua adat dapat berinteraksi langsung dengan generasi muda, memberikan nasihat dan pengarahan mengenai pentingnya menjaga adat.
Menjaga Kelestarian Lingkungan:
- Rasa Syukur terhadap Alam: Penyerahan hasil bumi dalam Seba adalah ekspresi rasa syukur atas karunia alam. Ini mencerminkan pandangan dunia masyarakat Baduy yang memandang alam sebagai sumber kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.
- Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan: Hasil bumi yang diserahkan dalam Seba adalah bukti dari praktik pertanian tradisional yang berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan. Perjalanan kaki yang mereka lakukan juga mencerminkan gaya hidup yang minim dampak terhadap lingkungan.
- Perlindungan Hutan dan Lahan: Dalam Seba, Warga Baduy seringkali menyampaikan permohonan terkait perlindungan hutan dan lahan adat mereka. Ini menunjukkan kesadaran mereka akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari kehidupan mereka.
Dengan demikian, Ritual Seba bukan hanya sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah perjalanan spiritual, sosial, dan budaya yang memiliki dampak mendalam terhadap kehidupan Warga Baduy. Ritual ini adalah bukti ketahanan mereka dalam menjaga warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi, serta sebuah pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghargai dan melindungi keberagaman budaya dan kearifan lokal di Indonesia. Permohonan Warga Baduy Ritual Seba kepada Gubernur Banten untuk memberikan perhatian lebih terhadap adat mereka adalah sebuah panggilan yang harus didengar dan ditindaklanjuti, demi kelestarian salah satu kekayaan budaya bangsa yang paling berharga.